Tidak akan kubiarkan engkau menderita.
Akan ku bungkus semua lukamu.
Akan kubingkai engkau sebuah harapan.
Meskipun aku tahu, engkau tidak akan
pernah melihat wujudnya.
Bahwa Devina terlahir dengan kelemahannya dia menjadi korban perpisahan kedua orang tuanya adalah kenyataan yang harus diterima dengan besar hati, bertahun-tahun dia harus melewati masa-masa sulit karena dia tinggal bersama neneknya semenjak dia ditinggal oleh ayahnya yang menghilang seperti ditelan bumi dan ibunya yang dianggapnya meninggal setelah beliau pergi merantau ke negara lain dan tiba-tiba beredar khabar bahwa ibunya Devina meninggal. Sekarang dia sudah menjadi seorang gadis yang kata orang dia mempunyai wajah cantik dan ayu, ”Dia pantas kita sayangi dan kita harus memperlakukan dia sebagai anak kita sendiri,” kata Tante Sasta berkata kepada seluruh anggota keluarga yang kebetulan semua sedang duduk bersama di ruang keluarga,” Ya benar ibu setuju kita sudah lewati semuanya, tidak mudah menjadi seorang ibu dari anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang sebenarnya. Namun demikian, dalam membesarkan Devina, kami selalu untuk tidak membedakannya, terutama setelah ia mulai duduk di kelas 1 SMA pasti Devina merasa tertekan dengan keadaan yang seperti itu, dia merasa anak yang paling tidak beruntung di dunia. Apalagi kalau teman-temannya sudah menceritakan ibunya yang sepertinya sangat penyayang, dan mereka sangat beruntung, bisa tumbuh dengan mendapatkan perhatian yang sangat besar dari kedua orang tuanya. Devina semakin terpuruk memikirkan itu. Tapi dia tidak pernah putus asa dengan keadaanya, karena dia seorang gadis yang mempunyai jiwa semangat yang tinggi dan selalu berfikir optimis, bahwa didunia ini tidak ada orang yang hidup sempurna dan dia berusaha bersyukur menerima akan apa yang menjadi garis hidupnya yang diberikan oleh yang maha kuasa.
Hari demi hari, dan bulanpun berganti tahun dia lewati, akhirnya dia naik ke kelas tiga, itu artinya dia sudah mulai dewasa dan harus memikirkan masa depannya kelak, “Bagaimana nasibku nanti? ”pikir Devina, sementara aku tidak punya orang tua kandung apa yang harus kulakukan kalau aku menjadi pengangguran?” kalau aku kuliah??” ah, tidak saya tidak akan memberatkan kakek dan nenekku aku sudah banyak berhutang budi kepada mereka !” pikir Devina sambil berjalan kearah kelas. Lalu, bel pun berbunyi tandanya pelajaran baru dimulai, anak-anak lari kedalam kelas begitupu Devina. Pelajaran berlangsung dengan tertib dan bel istirahatpun berbunyi “tet..tet..tet anak-anak dikelaspun semua bersorak hore! hore!!! karena itu pelajaran yang mereka anggap menjenuhkan selesai, ketika Devina membereskan buku pelajaran tiba-tiba Meisya berkata, hai Devi kita kekantin yuk, “ah gak dulu deh aku males jajan” jawag Devina, kenapa?? Tanya Anggi “soalnya aku sudah kekenyangan tadi pagi aku sudah sarapan di rumah” balas Devina sambil menggerutu didalam hati, padahal karena bukan itu masalahnya, dia tidak mempunyai uang saku lebih, semuanya serba pas-pasan, sementara itu mereka bertiga memaksa Devina untuk untuk jajan, ”Ayo dong Devi kamu nggak solider banget sama teman” masa kita berdua jajan kamu enggak, rasanya enggak asyik banget deh!” rasanya Devina sudah terperangkap dalam situasi itu “mereka tidak mengerti keadaanku, seandainya mereka tahu? ”ah tidak, fikir Devina. Dengan sangat terpaksa diapun ikut juga walaupun uangnya pas-pasan, mereka berjalan kearah kantin yang sedang ramai-ramainya, tiba-tiba saja seorang anak laki-laki menghampiri Devina, dia bernama Nico yang sekarang duduk di kelas tiga IPA1, “Hai Devi, mau jajan ya!” Devi ntar pulang sekolah aku mau ngomong sesuatu, kamu ada waktu nggak? Tanya Nico, teman-temannya berbisik sambil tersenyum kepada Devina, “Mh…Mh.. kebetulan pulang sekolah aku nggak ada kegiatan apa-apa! Jawab Devina. ”jadi kamu setuju, ya udah nanti aku tunggu di taman sekolah, Ok? Lalu Nico pun pergi dan sebelumnya melemparkan senyum kearah Devina dan Devina pun membalasnya, dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan Nico, dan akhirnya waktu istirhat berakhir, jam pelajaran berlangsung tertib seperti biasa, bel yang terakhir berbunyi, Nico telah lama menunggu Devina, karena kelas 3 IPA 1 lebih awal keluar daripada anak kelas 3 IPA 2 yang kebetulan kelas Devina. “Hai Nic, udah lama menunggu ya? Tanya Devina yang tiba-tiba menghampiri Nico, “ah demi kamu aku rela melakukan apa saja”, balas Nico sambil berjalan menuju bangku taman sekolah yang diatasnya terdapat pohon rindang, lalu merekapun duduk dan Nico langsung To The Point menyatakan perasaannya kepada Devina, pembicaraanpun berlangsung dan Devina terpesona akan ucapan Nico, sebenarnya Devina pun memiliki perasaan yang sama terhadap Nico yang sudah disimpan sejak pertama bertemu dari kelas 1 dulu. Lalu, merekapun menjadi sepasang kekasih. Bukan hanya itu, mereka sudah saling mengetahui sifatnya masing-masing, bahkan merekapun bercita-cita ingin menikah setelah lulus nanti. Hari demi hari mereka lewati, hubungan mereka semakin erat, minggu ke minggu bergulir silih berganti. Mereka, terutama Devina harus menghadapi ujian akhir sekolah, dia harus berpisah dengan teman-temannya dan meninggalkankan sekolah impiannya itu, dan tibalah pengumuman kelulusan. Semua siswa merasa resah, karena mereka takut tidak lulus. Akhirnya Devina dinyatakan lulus. Tapi, kenang-kenangan yang telah terbingkai bersama teman-teman dan guru-guru harus berlalu bersama angin lalu.
Kenangan Devina pun semakin larut entah apa dan siapa yang membuat kenangan itu, “Sebenarnya aku sangat merindukan dan berharap ayahku datang”, keluh Devina, kehidupan Devina berlanjut hingga suatu hari Nico yang telah berjanji melamarnya sekaligus menikahinya akhirnya menepati janjinya, dan keluarga Nico datang. Tapi, sebelumnya Devina tidak pernah bercerita kepada Nico bahwa dia sebenarnya tidak mempunyai ibu dan ayah, akhirnya keadaanpun semakin rumit. Kakek, Nenek dan tantenyapun bingung,”seandainya aku mempunyai keluarga yang lengkap seperti orang lain ya Tuhan” pikir Devina matanya berkaca-kaca”. Karena Nico berasal dari keluarga yang berada dan mereka takut karena mendengar keadaan Devina, mereka malah menyetujui Devina menjadi menantu mereka. Akhirnya ayah Nico pun mengeluarkan pertanyaan seperti yang tidak mereka pikirkan dan dengan sangat terpaksa Nenek dan Kekeknya menceritakan semuanya kepada keluarga Nico. “Apa” Nico berdiri serentak dia dia sangat terkejut dan terpukul mendengar semua kenyataan itu, lalu Nico marah “Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku, kenapa Devi, kenapa?? ”aku merasa dibohongi dan tertipu!” bentak Nico kepada Devina lalu Nico pergi keluar dan Devina pun menangis sambil meuju kamarnya, kejadian itu berlarut, entah apa yang mereka bicarakan lagi, lalu semua hening, Devina pun masih menangis dikamarnya, “Ya Tuhan apa salah dan dosaku hingga engkau menghukumku, kenapa nasibku seburuk ini?” aku sangat merindukan ayah dan ibuku, terlebih lagi kepada ayahku yang sekarang entah dimana dia berada”. Hari demi haripun silih berganti lalu Nico mengabarkan lewat surat bahwa Nico lulus seleksi untuk mendapatkan beasiswa dari kantornya. Ia akan dikirim ke Belgia.” Lalu, tanya Tante Sasta dan Tante Mirna hampir berbarengan, aku memberi isyarat pada mereka untuk tetap tenang.” Ia perlu waktu untuk adaptasi …….”
Kami semua tertegun “Dia telah menerima engkau selama berbulan-bulan”. Dia tahu konsekuensinya, lalu mengapa ?” “Saya pikir ia benar, saya hanya akan membebaninya. Biarlah saya pergi kalau sampai ia memutuskan untuk pergi saya siap.” Devina mengusap matanya. ”Saya mungkin tidak pernah siap. Tapi saya harus siap”Darimana apakah hatimu terbuat anakku?” Neneknya mengeluh sambil mencucurkan air matanya.
Keheningan malam mencekam susana, pukul satu malam ibu muncul dari balik pintu kamar. Kulihat Devina sedang menangis, neneknya kehilangan kata-kata, Devina memasukan tangannya kedalam daster sambil memperlihatkan surat, kubaca kalimat yang ada disana.
“ Saya baru menyadari, betapa banyak yang hal yang masih saya inginkan, saya masih ingin membangun dunia saya, dan tampaknya itu bukan dunia “kita” biarkan saya pergi, saya mencintaimu tetapi dunia kita sangat berbeda”
“Biarlah ia pergi” Neneknya berbicara, karena engkau tidak akan sendirian, engkau punya kami, engaku tidak akan pernah sendirian dan akan kubingkaikan harapanmu yang engkau pendam selama ini.
Selesai